Jumat, 04 Juli 2008

Geothermal (panas bumi) Bandung

Sumber Energi Panas Bumi
Sumber panas bumi berasal dari kegiatan gunung berapi dan intrusi (terobosan) magma. Dapur magma merupakan sumber energi panas bumi. Disamping proses pengangkatan dan perombakan kemudian mengakibatkan jalur-jalur gunung api aktif maupun yang telah padam membentuk pegunungan menjadi daerah penangkap air hujan/ air kedalam tanah relatif lebih besar dari daerah sekitarnya.
Susunan batuan jalur gunung api adalah hasil erupsi gunung api dan merupakan perselangan antara batuan piroklastik dan aliran lava yang membentuk susunan batuan tudung kedap air (impermeable) dan batuan porous-permeable. Bagian jalur gunung api dengan sumber panas relatif dangkal, terbentuklah daerah panas bumi yang dicirikan oleh kenampakan air panas, fumarola, dan lain-lain.
Penbentukan sumber panas bumi, dikontrol oleh proses-proses geologi yang telah atau sedang berlangsung sepanjang jalur vulkanisme, terobosan-terobosan magma serta sesaran-sesaran. Di Indonesia merupakan daerah vulkanik yang terbentuk pada zaman kwarter/ +_ 4 s/d 5 juta tahun lalu.

Cara terjadinya uap panas bumi dapat dikategorikan seperti berikut :
1. Sumber panas yang berasal dari pluton granit tidak dapat diperkirakan persis letaknya, tetapi hasil analisa didapatkan bahwa letaknya tidak terlalu dalam. Juga sumber panas tidak menampakkan gejala-gejala di atas permukaan bumi.
2. Suhu panas terbentuk batuan magmatik, kemudian keluar menembus permukaan bumi. Batuan magmatik dipermukaan akan membentuk gunung api tidak aktif atau berbentuk suatu gunung api aktif di masa lampau.
3. Pembentukan panas erat kaitannya dengan kegiatan gunung api atau kegunung apian.

6. Sumber Energi Panas Bumi terdiri-dari :
a. Panas bumi sistem uap kering (Dry Steam)
b. Panas bumi sistem uap basah (Wet Steam)
c. Panas bumi sistem air panas (Hot Water)
d. Panas bumi sistem batuan kering panas (Hot Dry Rock)

Energi panas bumi yang dapat dipergunakan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Mempunyai suhu yang tinggi (minimum 150 C di bawah tanah)
2. Tekanan uap cukup besar (minimum 3 atm)
3. Volume uap cukup banyak (10 ton per jam = 1000 KW listrik)
4. Tidak terlalu dalam (maximum 3000 m)
5. Uapnya tidak mengakibatkan karat (pH > 6)



Tidak ada komentar: